Telah sebulan dia berada d purwokerto,
merasakan kemandirian yang sesungguhnya. Kring..kring.. ponselnya berbunyi,
namun dia tak juga mengangkat, mungkin karena terlalu kecapekan akibat
praktikum Avertebrata. Hingga 3 kali dering, dia tak kunjung bangun juga. Pukul
9.00 wib dia baru bangun, 3 panggilan tak terjawab dan 5 pesan masuk tertulis
di ponselnya.
Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya
dia membaca sms di ponselnya.
“ayahhhh...”teriaknya dengan histeris,
hingga beberapa penghuni asrama yang bersebelahan dengannya keluar dan menuju
kamarnya. Ketika mereka masuk kamar Lena, ternyata dia telah jatuh pingsan di
lantai dengan ponsel ditangannya.
“Len...pulang, papa meninggal dunia” pesan
singkat dari kakak Lena.
Serasa ada yang berbisik di telinga Lena.
“bangun dek istigfar...”Lena terbangun, tatapannya kosong kedepan sambil
menitikkan air mata.
“ikhlaskan kepergiannya...insyaAllah dia
akan tenang di syurga, panggil saja saya kak Ais”dengan senyum menyemangati.
Lena pulang ke kampungnya di Kalimantan
Timur diantar oleh Ais menggunakan pesawat dengan penerbangan pertama di hari
ahad itu. Mungkin Lena merasa itu ujian terberat baginya ditinggalkan oleh
orang yang dia sayangi. Sesalnya karna belum sempat mengucapkan terimakasih
atas segala yang diberikan ayahnya untuknya. Tak hanya itu, dia juga tidak
sempat melihat wajah ayahnya untuk terakhir kalinya. Sakit jantung yang di
derita ayahnya sejak 5 tahun lalu memang sengaja disembunyikan dari Lena.
Mungkin alasan ayahnya menyuruh dia kuliah di Jawa karena ingin melihatnya mandiri
dan tidak terus bergantung padanya. Mungkin jika Lena tau ayahnya sakit pasti
dia orang pertama yang akan sangat peduli dengan beliau.
Yang ada difikiran Lena saat itu adalah
bagaimana dia hidup tanpa adanya sosok ayah disampingnya. Ya memang masih ada
ibu dan kedua kakaknya tapi tetap dari kecil dia begitu dekat dengan ayahnya.
Ayah yang selalu memberikan segala yang Lena mau. Rasanya seperti ingin ikut
menyusul ayahnya.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar