Keputusan 3,8 tahun yang lalu untuk meninggalkan
rumah adalah hal yang berat dalam hidupku. Aku tak menyangka akan seberani ini
jauh dari rumah setelah 18 tahun lamanya tidak pernah jauh dari orang tua. Kala
itu aku harus bisa memilih tetap di rumah dan aku tetap menjadi diriku yang
tidak berkembang atau aku harus pergi untuk belajar menjadi gadis mandiri serta
mencari dunia yang kucari. Ketika minggu pertama aku harus makan sambil
mengusap air mata. Terlebih jika hari menjelang petang, aku merasa benar – benar
jauh dari mereka. Jarak 230 km itu bukanlah jarak yang dekat. Jika aku berpikir
pendek mungkin aku segera menelphone mereka dan mengatakan aku akan pulang
besok lalu aku tak akan kembali ke tempat ini lagi. Namun aku punya mimpi dan
aku ingin terus belajar banyak hal yang tak kan pernah aku dapatkan di rumah.
Hingga satu bulan lamanya aku tak pernah berani menelphone orangtuaku karena
aku takut tidak mampu menahan kerinduan itu dan tentunya aku tak ingin melihat
mereka khawatir dengan keadaanku. Kini aku tak menyangka bisa bertahan selama
ini disini dan mungkin aku sudah mulai terbiasa serta nyaman. Awalnya aku ingin
mencoba menjadi gadis mandiri yang jauh dari orangtua. Tapi sepertinya hingga
3,5 tahun ini aku belum merasa bahwa diriku mandiri. Mandiri dari mana kataku,
tiap bulan saja masih minta kiriman uang saku, belum lagi jika ada kebutuhan
mendesak lain belum genap satu bulan aku harus ke ATM untuk mengambil
transferan uang dari ibu. Ah.. pokoknya mandiri itu susah bagiku. Bukan sekedar
kamu harus tidur, mandi, masak, cuci baju sendiri tapi kamu juga harus bisa
menghidupi dirimu sendiri. Empat tahun itu hampir habis. Inginku segera
meninggalkan kota ini, tapi...