nasyid

Kamis, 14 Mei 2015

karna Dia :)




Dan sekarang baru aku tersadar bahwa cinta yang hakiki hanya cinta Dia pada yang empunya cinta. Sudah cukup aku dibuat lelah dengan semua sikapnya yang selalu egois itu. Siapa dia mau mengatur hidupku, belum juga menjadi istriku dia  sudah seperti ini apalagi kalau sudah jadi istriku, bisa mati berdiri rasanya, sedikit-sedikit tidak boleh. Mungkin besok aku harus mengatakan semua ini padanya. Paginya dia menemui di depan kos ku, matanya sebam. Lantas aku bertanya padanya.

“apa yang terjadi padamu dek?” tanyaku dengan nada halus
Dia lalu berbalik badan dan memelukku sembari menanggis. Astagfirullah... apa lagi yang diperbuat wanita ini, kami belum muhrim. Aku rasanya ingin membentaknya tapi tak tega karena sepertinya dia sedang mendapat masalah. Kucoba menenangkannya hingga akhirnya dia mau bercerita padaku. Aku mengajaknya makan karna tidak enak bila mengobrol di kosan. Aku sengaja duduk agak jauh darinya tapi dia selalu mendekat padaku.

“mas, maafkan aku, sebenarnya aku dekat dengan seorang pria selama mas kembali ke pondok.” Tuturnya padaku sambil bersandar di bahuku meski aku sudah menolaknya dia tetap tak mau pindah.

“jadi itu masalahnya, lalu kenapa kau menanggis?” tanya ku padanya dengan nada halus meski di dalam hati ku serasa ingin sekali memakinya, sungguh sangat kecewa dikhianati seperti ini.

“aku tahu mas mungkin kecewa, dan mungkin akan lebih kecewa lagi bila aku bicara yang sejujurnya. Tapi aku tak tau lagi harus mengatakan ini pada siapa. Aku hamil mas.” Katanya sambil terus menanggis di pundakku.


Astagfirullah... apa lagi ini ya Rabb. Disaat itu pula seorang wanita bergamis abu-abu masuk ke rumah makan. Dia melihatku dengan seorang wanita yang bersandar di pundakku, meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya sembari menangis. Dia tak lagi meneruskan langkahnya menuju tempat makan, dia langsung pergi dengan muka tertunduk lalu menstater motor dan meninggalkan tempat rumah makan. Dan lagi-lagi itu hanya halusinasiku karena sedang menaruh hati padanya.

“apa yang harus kulakukan mas?” pertanyaan Alisa membangunkanku dari halusinasiku. Ku ajak dia pulang tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan padaku.

...

 “sungguh tak berguna ilmu yang ku peroleh dari pondok, kalo ujung-ujungnya luluh juga pada wanita macam dia.” kataku dalam hati. Begitu lemah imanku kala itu hingga aku mau berpacaran dengan dia.

Haruskah aku menikahi Alisa hanya sekedar untuk menolong? Atau tak ku gubris dia dan segera mengkhitbah Fatimah.Seorang menghampiriku di teras mushola.
“assalamualaykum broo... rupanya kau sedang gelisah ? bagilah barangkali awak bisa membantu hehe.” Sapa akh Rizal, dia murabbiku disini.

“wa’alaykumussalam akh,. ane bingung .” Tuturku padanya

“pasti masalah cinta, apakah kau sudah menentukkan pilihan antara Alisa dan Fatimah?” tanyanya

“sudah akh, insyaallah ane memilih Fatimah” jawabku

“lantas?” tanyanya lagi

 “Alisa hamil akh.. tapi tunggu, bukan ane yg menghamili dia. Saat ane kembali ke pondok dia dekat dengan teman pria nya. Dan saat ini dia tidak mau bertanggungjawab.”jelasku padanya

Sepertinya akh Rizal pun juga belum bisa memberi solusi padaku. Aku harus memutuskannya segera.
 Selang 2 hari kutemui akh Rizal lagi di perpustakaan. Kuutarakan niatku ini, dan dia pun menyerahkan semua padaku. Kali ini aku harus menjadi pria yang gentle. Bissmillah, sore itu ku telfon abi ku, ternyata beliau sama sekali tak marah padaku. Kumantabkan pilihanku meski berat rasanya.

...

Acara lamaranpun telah terlaksana, dan selang 2 hari berikutnya acara ijab kabul. Hati ini mulai tak tenang, yang jadi pertanyaanku kala itu, akankah dia datang di acara walimahanku? sepertinya tak sanggup jika aku harus melihatnya disini.
 
Tinggal hitungan detik, jantungku serasa ingin copot. Ponselku berbunyi, ada  pesan masuk.

“assalamualaykum, maaf mas sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, alhamdulillah Tedi telah bersedia bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan padaku. Aku sunggu meminta maaf padamu atas pembatalan ini.” Bunyi sms dari Alisa

Disisi lain aku merasa senang karena tak jadi menikah dengan Alisa, tapi aku sedih bagaimana dengan orangtuaku. Pasti mereka sangat malu karena putranya tak jadi menikah sedang undangan sudah banyak yang datang. Kutenggok ke arah akh Rizal, di melirik ke arah kanan sepertinya memberi suatu kode padaku. Awalnya aku tak mengerti, setelah kucermati disana ada seorang akhwat bergamis merah jambu yaitu Fatimah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar