Dan
sekarang baru aku tersadar bahwa cinta yang hakiki hanya cinta Dia pada yang
empunya cinta. Sudah cukup aku dibuat lelah dengan semua sikapnya yang selalu
egois itu. Siapa dia mau mengatur hidupku, belum juga menjadi istriku dia sudah seperti ini apalagi kalau sudah jadi
istriku, bisa mati berdiri rasanya, sedikit-sedikit tidak boleh. Mungkin besok
aku harus mengatakan semua ini padanya. Paginya dia menemui di depan kos ku,
matanya sebam. Lantas aku bertanya padanya.
“apa
yang terjadi padamu dek?” tanyaku dengan nada halus
Dia
lalu berbalik badan dan memelukku sembari menanggis. Astagfirullah... apa lagi
yang diperbuat wanita ini, kami belum muhrim. Aku rasanya ingin membentaknya
tapi tak tega karena sepertinya dia sedang mendapat masalah. Kucoba
menenangkannya hingga akhirnya dia mau bercerita padaku. Aku mengajaknya makan
karna tidak enak bila mengobrol di kosan. Aku sengaja duduk agak jauh darinya
tapi dia selalu mendekat padaku.
“mas,
maafkan aku, sebenarnya aku dekat dengan seorang pria selama mas kembali ke
pondok.” Tuturnya padaku sambil bersandar di bahuku meski aku sudah menolaknya
dia tetap tak mau pindah.
“jadi
itu masalahnya, lalu kenapa kau menanggis?” tanya ku padanya dengan nada halus
meski di dalam hati ku serasa ingin sekali memakinya, sungguh sangat kecewa
dikhianati seperti ini.
“aku
tahu mas mungkin kecewa, dan mungkin akan lebih kecewa lagi bila aku bicara
yang sejujurnya. Tapi aku tak tau lagi harus mengatakan ini pada siapa. Aku
hamil mas.” Katanya sambil terus menanggis di pundakku.
Astagfirullah...
apa lagi ini ya Rabb. Disaat itu pula seorang wanita bergamis abu-abu masuk ke
rumah makan. Dia melihatku dengan seorang wanita yang bersandar di pundakku,
meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya sembari menangis. Dia tak lagi
meneruskan langkahnya menuju tempat makan, dia langsung pergi dengan muka
tertunduk lalu menstater motor dan meninggalkan tempat rumah makan. Dan
lagi-lagi itu hanya halusinasiku karena sedang menaruh hati padanya.
“apa
yang harus kulakukan mas?” pertanyaan Alisa membangunkanku dari halusinasiku.
Ku ajak dia pulang tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan padaku.
...
“sungguh tak berguna ilmu yang ku peroleh dari
pondok, kalo ujung-ujungnya luluh juga pada wanita macam dia.” kataku dalam
hati. Begitu lemah imanku kala itu hingga aku mau berpacaran dengan dia.
Haruskah
aku menikahi Alisa hanya sekedar untuk menolong? Atau tak ku gubris dia dan
segera mengkhitbah Fatimah.Seorang menghampiriku di teras mushola.
“assalamualaykum
broo... rupanya kau sedang gelisah ? bagilah barangkali awak bisa membantu hehe.”
Sapa akh Rizal, dia murabbiku disini.
“wa’alaykumussalam
akh,. ane bingung .” Tuturku padanya
“pasti
masalah cinta, apakah kau sudah menentukkan pilihan antara Alisa dan Fatimah?”
tanyanya
“sudah akh, insyaallah ane
memilih Fatimah” jawabku
“lantas?”
tanyanya lagi
“Alisa
hamil akh.. tapi tunggu, bukan ane yg menghamili dia. Saat ane kembali ke
pondok dia dekat dengan teman pria nya. Dan saat ini dia tidak mau
bertanggungjawab.”jelasku padanya
Sepertinya
akh Rizal pun juga belum bisa memberi solusi padaku. Aku harus memutuskannya
segera.
Selang
2 hari kutemui akh Rizal lagi di perpustakaan. Kuutarakan niatku ini, dan dia
pun menyerahkan semua padaku. Kali ini aku harus menjadi pria yang gentle.
Bissmillah, sore itu ku telfon abi ku, ternyata beliau sama sekali tak marah
padaku. Kumantabkan pilihanku meski berat rasanya.
...
Acara
lamaranpun telah terlaksana, dan selang 2 hari berikutnya acara ijab kabul.
Hati ini mulai tak tenang, yang jadi pertanyaanku kala itu, akankah dia datang
di acara walimahanku? sepertinya tak sanggup jika aku harus melihatnya disini.
Tinggal hitungan detik, jantungku serasa ingin copot. Ponselku berbunyi, ada pesan masuk.
“assalamualaykum,
maaf mas sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, alhamdulillah
Tedi telah bersedia bertanggungjawab atas apa yang telah dia lakukan padaku.
Aku sunggu meminta maaf padamu atas pembatalan ini.” Bunyi sms dari Alisa
Disisi
lain aku merasa senang karena tak jadi menikah dengan Alisa, tapi aku sedih
bagaimana dengan orangtuaku. Pasti mereka sangat malu karena putranya tak jadi
menikah sedang undangan sudah banyak yang datang. Kutenggok ke arah akh Rizal,
di melirik ke arah kanan sepertinya memberi suatu kode padaku. Awalnya aku tak
mengerti, setelah kucermati disana ada seorang akhwat bergamis merah jambu
yaitu Fatimah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar